Selasa, 17 Januari 2017

Perbedaan Masyarakat Perdesaan Dengan Masyarakat Perkotaan

Perbedaan Masyarakat Perdesaan
Dengan Masyarakat Perkotaan


Hai Sobat, Bertemu lagi dengan saya,..
Semoga sobat sedang dalam keadaan sehat dan semangat, jika ada yang sakit mari kita do’akan semoga lekas sembuh ya! Aamiin.

Kali ini saya akan membahas tentang suatu perbedaan, Perbedaan yang begitu dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Pasti ada kan diantara sobat yang mempunyai Ayah atau Ibu yang merantau dari kampung, lalu setiap edisi lebaran, kita diajak untuk “pulang kampung” atau mudik untuk bersilaturahmi kepada sanak saudara yang Ayah atau Ibu kita tinggalkan di kampung tempat mereka dibesarkan dulu sampai akhirnya pergi merantau ke Kota untuk mengadu nasib. Nah sobat udah tau belum, apasih perbedaan masyarakat Perkotaan dengan masyarakat Pedesaan? Mau tau lebih lanjut? Yuk silahkan dibaca sekilas pembahasan dibawah ini.






Masyarakat merupakan sekumpulan individu yang menempati suatu wilayah tertentu dengan batas-batas yang jelas dan adanya hubungan yang kuat di antara mereka sesama anggota kelompoknya.
Berikutnya akan kita pahami tentang masyarakat menurut jenisnya atau tipenya yang secara umum dibedakan menjadi dua bagian yaitu :
a. Masyarakat tradisional (sederhana) dan masyarakat modern.
b. Masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan.








A. Masyarakat Desa (Rural Society)

Secara awam masyarakat desa sering diartikan sebagai masyarakat tradisional dari masyarakat primitif (sederhana). Namun pandangan tersebut sebetulnya kurang tepat, karena masyarakat desa adalah masyarakat yang tinggal di suatu kawasan, wilayah, teritorial tertentu yang disebut desa. Sedangkan masyarakat tradisional adalah masyarakat. yang menguasaan ipteknya rendah sehingga hidupnya masih sederhana dan belum kompleks. Memang tidak dapat dipungkiri masyarakat desa dinegara sedang berkembang seperti Indonesia, ukurannya terdapat pada masyarakat desa yaitu bersifat tradisional dan hidupnya masih sederhana, karena desa-desa di Indonesia pada umumnya jauh dari pengaruh budaya asing/luar yang dapat mempengaruhi perubahan-perubahan pola hidupnya.

Adapun ciri-ciri masyarakat desa antara lain :
  1. Anggota komunitas kecil
  2. Hubungan antar individu bersifat kekeluargaan
  3. Sistem kepemimpinan informal
  4. Ketergantungan terhadap alam tinggi
  5. Religius magis artinya sangat baik menjaga lingkungan dan menjaga jarak dengan penciptanya, cara yang ditempuh antara lain melaksanakan ritus pada masa-masa yang dianggap penting misalnya saat kelahiran, khitanan, kematian dan syukuran pada masa panen, bersih desa.
  6. Rasa solidaritas dan gotong royong tinggi
  7. Kontrol sosial antara warga kuat
  8. hubungan antara pemimpin dengan warganya bersifat informal
  9. Pembagian kerja tidak tegas, karena belum terjadi spesialisasi pekerjaan
  10. Patuh terhadap nilai-nilai dan norma yang berlaku di desanya (tradisi)
  11. Tingkat mobilitas sosialnya rendah
  12. Penghidupan utama adalah petani. 






B. Masyarakat Perkotaan
 
Warga belajar--sekalian, Membahas masyarakat perkotaan sebetulnya tidak dapat dipisahkan dengan masyarakat desa karena antara desa dengan kota ada hubungan konsentrasi penduduk dengan gejala-gejala sosial yang dinamakan urbanisasi, yaitu perpindahan penduduk dari desa kekota. Masyarakat perkotaan merupakan masyarakat urban dari berbagai asal/desa yang bersifat heterogen dan majemuk karen terdiri dari berbagai jenis pekerjaan/keahlian dan datang dari berbagai ras, etnis, dan agama.

Mereka datang ke kota dengan berbagai kepentingan dan melihat kota sebagai tempat yang memiliki stimulus (rangsangan) untuk mewujudkan keinginan. Maka tidaklah aneh apabila kehidupan di kota diwarnai oleh sikap yang individualistis karena mereka memiliki kepentingan yang beragam. Lahan pemukiman di kota relatif sempit dibandingkan di desa karena jumlah penduduknya yang relatif besar maka mata pencaharian yang cocok adalah disektor formal seperti pegawai negeri, pegawai swasta dan di sektor non-formal seperti pedagang, bidang jasa dan sebagainya. Sektor pertanian kurang tepat dikerjakan di kota karena luas lahan menjadi masalah apabila ada yang bertani maka dilakukan secara hidroponik. Kondisi kota membentuk pola perilaku yang berbeda dengan di desa, yaitu serba praktis dan realistis.

Ciri-ciri masyarakat kota (urban) antara lain :
  1. Kehidupan keagaam berkurang, karena cara berpikir yang rasional dan cenderung sekuler
  2. Sikap mandiri yang kuat  dan tidak terlalu tergantung pada orang lain sehingg cenderung individualistis
  3. Pembagian kerja sangat jelas dan tegas berdasarkan tingkat kemampuan/ keahlian
  4. Hubungan antar individu bersifat formal dan interaksi antar warga berdasarkan kepentingan.
  5. Sangat menghargai waktu sehingga perlu adanya perencanaan yang matang.
  6. Masyarakat cerderung terbuka terhadap perubahan didaerah tertentu (slum) 
  7. Tingkat pertumbuhan penduduknya sangat tinggi
  8. Kontrol sosial antar warga relatif rendah
  9. Kehidupan bersifat non agraris dan menuju kepada spesialisasi keterampilan
  10. Mobilitas sosialnya sangat tinggi karena penduduknya bersifat dinamis, memamanfaatkan waktu dan kesempatan, kreatif, dan inovatif.











Untuk lebih jelasnya dan memudahkan memahami tentang perbedaan masyarkat desa dan masyarakat kota ini dapat kita lihat dalam tabel dibawah ini :

PERBEDAAN MASYARAKAT PERKOTAAN DAN MASYARAKAT PERDESAAN
NO
ASPEK
MASYARAKAT PEDESAAN
MASYARAKAT PERKOTAAN
1.
Lingkungan dan orientasi terhadap alam
Kenyataan alam sangat menunjang kehidupan
Cenderung bebas dari kenyataan alam
2.
Pekerjaan/ mata pencaharian
Yang menonjol adalah bertani, nelayan, beternak
Beraneka ragam dan terspesialisasi
3.
Ukuran komunitas
Lebih kecil dengan tingkat kepadatan rendah
Lebih besar dan kompleks dengan tingkat kepadatan tinggi
4.
Homogenitas/ heterogenitas
Homogenitas dalam ciri-ciri sosial, kepercayaan, bahasa, adat istiadat.
Heterogenitas dalam ciri-ciri sosial, kebudayaan, pekerjaan, dll.
5.
Pelapisan sosial
Ukuran pada kepemilikan tanah, kepercayaan, bahasa, adat istiadat
Ukuran pada kekayaan materi, tingkat pendidikan, Kesenjangan sosial relatif besar.
6.
Interaksi Sosial

Bentuk umum adalah kerjasama konflik sedapat mungkin dihindari, cenderung bersifat informal
Bentuk umum adalah persaingan, karena motif ekonomi, cenderung bersifat formal.
7.
Mobilitas Sosial
Relatif kecil karena masyarakat homogen
Relatif besar karena masyarakat heterogen
8.
Pola Kepemimpinan
Kualitas pribadi ditentukan oleh kejujuran, kebangsawanan dan pengalaman
Kualitas pribadi lebih ditentukan oleh sistem hirarki dan birokrasi
9.
Solidaritas Sosial
Solidaritas sangat tinggi tampak dalam gotong-royong, musyawarah dalam berbagai macam kegiatan
Solidaritas masih berorientasi pada kepentingan tertentu.
10.
Nilai dan sistem Nilai
Cenderung memegang teguh nilai agama, etika, dan moral
Cenderung berorientasi pada ekonomi dan pendidikan.








Sumber :

Nama : Sabrie Prasetio
Npm : 16316746

Selasa, 13 Desember 2016

TOL BECAKAYU (BEKASI-CAWANG-KAMPUNG MELAYU)

TOL BECAKAYU (BEKASI-CAWANG-KAMPUNG MELAYU)



Jalan Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) adalah jalan tol berkonstruksi layang yang dibangun di atas sungai Kalimalang di kota Jakarta Timur dan Bekasi untuk mengurai kemacetan di sekitar Kalimalang. Jalan tol ini dimulai pembangunannya pada tahun 1996 oleh PT Kresna Kusuma Dyandra Marga, namun terhenti dua tahun kemudian akibat krisis moneter yang melanda. Jalan tol Becakayu menelan biaya investasi Rp 7,2 triliun, biaya konstruksi Rp 4,785 triliun, biaya pembebasan tanah Rp 449 miliar, dan masa konsesi 45 tahun (sejak SPMK). Investor dan pengelola Tol Becakayu adalah PT Waskita Toll Road, anak usaha dari PT Waskita Karya (Persero) Tbk yang memegang 60 persen saham PT Kresna Kusuma Dyandra Marga. Jalan tol ini dikabarkan akan selesai tahun 2017.

            Sebenarnya jalan tol ini keberadaannya dekat sekali dengan rumah saya, hanya beberapa ratus meter, karena jalan tol ini melewati kelurahan Jakasampurna Bekasi Barat, serta dibangun diatas kalimalang, sebuah sungai yang sudah sangat tidak asing ditelinga masyarakat Kota Bekasi dan juga Kota Jakarta tentunya.
            Ketika saya kecil, saya sempat tinggal di daerah Bekasi namun kemudian karna beberapa hal, saya berpindah pindah, dari Jakarta ke Bekasi, Bekasi ke Jakarta, begitu seterusnya, jadi saya sangat mengenal sekali apa saja yang sedang dibangun disekitaran jalan raya kalimalang dan sejak saya kecil, saya selalu penasaran dengan sesuatu yang ada dipinggir kalimalang, sebuah bangunan, seperti pondasi, sebuah proyek yang terlihat tidak selesai, atau dalam kata lain “mandek”. Proyek itu belum selesai, tapi sejak kecil saya penasaran, apa yang akan dibuat disitu, sebuah kereta layang kah? Jujur saya tidak terpikirkan, pondasi yang mandek itu akan dijadikan tol.
           

Seiring dengan berjalannya waktu, ternyata pondasi yang mandek itu dilanjutkan ditahun 2014, mulailah banyak bahan bahan material pembuat jalan tol diturunkan dibawah bawah tiang pondasi itu, dan hal tersebut sebenarnya membuat badan jalan menjadi sempit, yang kemudian menyebabkan macet. Ada beberapa hal yang sebenarnya saya keluhkan karna pembuatan jalan tol itu, yang pertama, badan jalan menjadi sempit, kedua jalanan menjadi banyak yang rusak dan berlubang, serta banyak pasir jikalau anginnya sedang bertiup kencang, jika hujan, jalan raya kalimalang akan menjadi kotor karna air hujan yang turun bercampur pasir, dan yang terakhir, pohon pohon yang besar yang sedari dulu tumbuh di sepanjang pinggiran jalan raya kalimalang harus ditebang dan membuat jalan terlihat panas dan gersang.


Mungkin itulah yang akan kami rasakan sebagai “orang teknik sipil” jikalau nanti sudah lulus kuliah, dan mengerjakan suatu proyek, kita jangan hanya melihat dari sudut pandang satu orang, tapi harus lihat manfaat apa dari proyek yang kita bangun, setidaknya meminimalisir keluhan warga sekitar yang terkena dampak dari pembangunan, serta mengembalikan kembali lingkungan yang mungkin dirusak sementara untuk pembangunan ini.



Selasa, 6 Desember 2016

            Saya beserta tim sudah melakukan serangkaian persiapan untuk menanyakan beberapa hal kepada salah satu yang bertanggung jawab atas pembuatan tol ini dari awal hingga akhir. Pukul 10.00 wib, saya dan tim sudah sampai di lokasi, tempatnya memang sedang tahap pembangunan akhir, alias hampir rampung, karena yang mengarah ke Jakarta sudah jadi, tinggal penyelesaian dan penambahan akhirnya saja. Setelah kami bertanya ke beberapa sub-kontraktor disana, mereka menyarankan kami, jika ingin melakukan wawancara, kami harus ke kantor P.T Waskita Toll Road nya saja yang jaraknya lumayan jauh bagi saya untuk ditempuh, karena saya tahu daerah yang dimaksudkan para “tukang” tersebut. Setelah beberapa kali bertanya, akhirnya saya dan tim melihat ada seorang Bapak yang kelihatan nya sedang memberikan beberapa arahan, dia berbicara seperti “mandor”, lalu kemudian kami dekati beliau, dan setelah berbincang, akhirnya ia mau untuk diwawancarai sedikit mengenai proyek pembangunan Tol Becakayu ini. Kami sangat beruntung, ternyata beliaulah penanggung jawab atas proyek ini, mulai dari awal hingga selesai, beliau bernama Bapak Niko, lulusan Teknik Sipil UGM, asalnya dari Sulawesi, dan sebenarnya beliau bertempat tinggal di Depok, tidak terlalu jauh dari kampus kami, Gunadarma.

            Kami sebenarnya tertarik dengan beberapa hal dari tol ini, pertanyaan yang langsung kami lontarkan adalah, mulai sejak kapan seebenarnya jalan tol becakayu ini dirintis, kemudian Pak Niko menjelaskan, Tol Becakayu ini sebenarnya sudah dirintis sejak masa orde baru, sekitar Tahun 1994-1997, namun kemudian mangkrak dan tidak dilanjutkan, baru dilanjutkan kembali pada masa kepemimpinan Presiden Jokowi tahun 2014.




Sempat berganti konsultan, yang dulunya bekerjasama dengan konsultan Buana Arsikon, sekarang digantikan oleh Delta Konstruksi. Desain awalnya dijalankan di 2006, kemudian ada review ulang di tahun 2008, tetapi secara keseluruhan, mengikuti plan awal sejak tahun 2000.

            Pembahasan selanjutnya saya dan tim bertanya tentang berapa jumlah/total uang yang telah dikeluarkan untuk membangun proyek ini, Pak Niko menjawab “sejauh ini total nilai proyeknya sudah menghabiskan dana sekitar 5,7 Trilyun Rupiah”. Sejenak kami memikirkan, dapat darimana uang sebanyak itu, lalu beliau mengatakan “ Dana nya berasal dari APBN “.
Kemudian kami penasaran dengan detail tol becakayu ini, seberapa panjangkah, lebar jalannya apakah cukup besar, Kemudian Beliau Menuturkan “ Total panjang tol ini 12,5 km tetapi itu hanya satu sisi, karna ini dua sisi, yaitu utara dan selatan jadi jika ditotal menjadi 25km, lebar jalannya 13 m, bulan maret 2017 akan diresmikan sepanjang 8km terlebih dahulu”.





            Pembahasan akhir yang masih ingin kami tanyakan yaitu tentang dampak, lalu apakah dalam pembangunan proyek ini melakukan kerjasama dengan Perusahaan lain yang bergerak di bidang Pembangunan, dan yang terakhir apasih peran pemerintah terhadap pembangunan tol ini, lalu kemudian beliau menjelaskan “ sebenarnya kalo dampak, kalian harus tanya ke warga sekitar, jika memang ada, pasti aka nada laporan ke kita ( maksudnya ke pihak yang membangun jalan tol ini). Tapi sejauh ini tidak ada sih, kalau pihak yang bekerjasama, P.T Waskita Karya yang jadi kontraktor utama, sisanya paling konsultan, peran pemerintah ya paling seperti mengawasi, dan nanti yang akan meresmikan dari pihak pemerintah, kalau sosialisasi, kita harus sosialisasi ke pihak pihak yang terkait, mulai dari RT, RW, Lurah, Camat, Polsek setempat serta Koramil, dan Polsek juga ada 2 pihak, karena tol ini melewati 2 provinsi yang berbeda, yang pertama dari Kota Bekasi dan yang kedua dari Kota Jakarta Timur”.



Begitu beliau menuturkan panjang jelas, beliau sempat bertanya tanya juga kepada kami, darimana asal daerah kami, serta memberikan beberapa nasihat kepada kami agar kelak menjadi orang yang berguna, dan taat serta patuh terhadap Yang Maha Kuasa serta Orangtua.
Terlihat dari cara bicara dan pandangan nya, beliau bukan orang sembarangan, karna pengalaman beliau juga dibilang cukup bagus, beliau pula yang mengajari kami tentang pondasi tol pada umumnya, beliau gambarkan disebuah kertas, kami sangat senang serta sangat beruntung bertemu Bapak Niko.

Harapan saya untuk Tol Becakayu ini semoga cepat diresmikan, dan dapat digunakan secara baik dan bijak oleh semua pihak, apa apa yang telah dirusak sementara oleh pihak kontraktor harus segera dikembalikan, seperti lingkungan yang menjadi terlihat kumuh dan kotor, serta jalan yang sempit dan berlubang harus segera diperbaiki ulang seiring berjalannya waktu.

Berikut adalah foto-foto saat wawancara dan keadaan tol yang sedang dibangun, semoga bermanfaat :



































Salam Sipil! Sipil Satu!


Sumber :

Nama : Sabrie Prasetio
NPM  : 16316746